Hubungan antara kentang dan diabetes tipe 2 ternyata sangat rumit dan tidak dapat disimpulkan secara sederhana. Selama bertahun-tahun, penelitian telah menunjukkan adanya kaitan ini, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa masalahnya mungkin bukan pada kentang itu sendiri, namun pada bagaimana kentang tersebut dikonsumsi, dan apa saja yang ada di piring.
Peringatan Dini dari Harvard
Kekhawatiran pertama kali muncul pada tahun 2006 melalui Studi Kesehatan Perawat Harvard. Dengan melacak puluhan ribu wanita selama dua dekade, para peneliti menemukan bahwa asupan kentang yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko diabetes. Namun, sebagian besar kentang yang dikonsumsi di AS diolah – digoreng menjadi keripik atau kentang goreng. Analisis lebih lanjut terhadap kentang panggang atau kentang tumbuk masih menunjukkan adanya kaitan, bahkan setelah memperhitungkan penambahan umum seperti mentega dan krim asam.
Para peneliti juga berusaha mengisolasi dampaknya dengan mempertimbangkan pola makan: konsumsi daging, rasio lemak, dan asupan sayuran. Namun, asosiasi tersebut tetap bertahan. Pada tahun 2015, temuan serupa muncul dari Studi Tindak Lanjut Profesional Kesehatan (kohort yang semuanya laki-laki), memperkuat gagasan bahwa kentang yang tidak digoreng pun dapat berkontribusi terhadap risiko diabetes. Beberapa ahli, termasuk Walter Willett dari Harvard, menyarankan kentang harus diklasifikasikan bersama makanan manis karena temuan ini.
Analisis Meta dan Penolakan Industri
Sebuah meta-analisis tahun 2018 terhadap enam penelitian mengkonfirmasi peningkatan risiko diabetes sekitar 20% per porsi kentang setiap hari. Namun, sebagian besar kentang dalam penelitian ini digoreng. Produsen kentang goreng beku terbesar di dunia membantah kesimpulan ini dan mendanai tinjauan untuk meremehkan ilmu pengetahuan. Tinjauan ini dengan tepat menunjukkan bahwa studi observasional tidak dapat membuktikan secara pasti penyebabnya: konsumsi kentang mungkin hanya mengindikasikan pola makan yang tidak sehat secara keseluruhan.
Sentuhan Iran: Perspektif Berbeda
Kuncinya mungkin terletak pada bagaimana kentang dimakan. Sebuah penelitian pada tahun 2020 di Iran, di mana kentang rebus merupakan makanan umum, mengungkapkan hasil yang mengejutkan. Peserta yang makan kentang paling banyak memiliki tingkat diabetes terendah, karena pola makan sehat yang kaya akan makanan utuh. Hal ini menunjukkan bahwa sulit untuk mengisolasi efek kentang ketika mempertimbangkan pola makan secara keseluruhan.
Apa Artinya?
Bukti saat ini tidak secara pasti membuktikan bahwa kentang secara umum meningkatkan risiko diabetes. Penyebab sebenarnya tampaknya terletak pada bagaimana makanan tersebut disiapkan dan dikonsumsi. Kentang goreng, khususnya kentang goreng, jelas terkait dengan risiko yang lebih tinggi, sedangkan kentang rebus atau panggang dengan pola makan seimbang mungkin tidak berbahaya. Penelitian lebih lanjut diperlukan, namun data menunjukkan bahwa yang benar-benar penting bukanlah kentang itu sendiri, melainkan gaya hidup di sekitar kentang.
Untuk bacaan lebih lanjut: nantikan analisis lebih mendalam tentang kentang, termasuk pengaruhnya terhadap tekanan darah, dampak glikemik, dan metode persiapan yang optimal.

























